Dari Manakah Sumber Listrik Di Pulau Bali?

Pembangkit Listrik Tenaga Surya Bali

Sumber listrik di Bali berpotensi dikembangkan menjadi EBT atau Energi Baru Terbarukan. Saat ini total potensi energi yang mampu dihasilkan pembangkit EBT diatas 104.390 MW. Kendati demikian pembangkit EBT ini tidak mencukupi untuk menjaga keandalan dan kebutuhan listrik di Bali. Artinya perlu adanya back up, terlebih jika pembangkit EBT ini mengalami gangguan.

Energi Baru Terbarukan Bali
Energi Baru Terbarukan Bali

Seperti yang pernah disampaikan Gusti Ketut Putra, Deputi Manajer Komunikasi dan Bina Lingkungan PLN Distribusi Bali I, pada tahun 2018 lalu PLN mempunyai target terealisasinya 3 lokasi pembangkit dari EBT. Lantas dari manakah sumber listrik di Pulau Bali melalui EBT ini? Ketiga lokasi itu adalah Muara, Bangklet di Bangli, serta Kubu di karangasem. Silahkan sewa mobil di https://www.sewamobil.co jika Anda ingin mengunjungi ketiga tempat ini.

Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa

Dari realisasi Pembangkit Listrik Energi Baru Terbarukan, PLTM Muara mampu menghasikkan energi sebesar 1.4 MW. Sedangkan PLTS Bangklet di Bangli menghasilkan energi 1 MWp (Mega Watt peak), sementara PLTS Kubu di Karangasem menghasilkan 1 MW.

READ  Potensi Sumber Energi Listrik Di Bali Melalui Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS)
Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa Bali
Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa Bali

Sebenarnya ada satu lagi pembangkit listrik yang sempat beroperasi yaitu PLT Sampah (PLTsa) yang berlokasi di Suwung. Namun saat ini sudah dinonaktifkan karena terkendala biaya. Kala itu Suwung mampu memasok energi 0.5 MW. Sedangkan PLT Bayu menghasilkan daya 2X 30Kw.

PLN juga mempunyai rencana Pembangkit EBT di Pulau Bali hingga tahun 2025 mendatang, yaitu Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa (PLTBm) yang tersebar di sejumlah lokasi.

  • PLTsa 15 MW
  • PLTP Bedugul10 MW
  • PLTM Ayung 2.34 MW
  • PLTM Tukad Daya 8.2 MW
  • PLTM Sunduwati 2.2 MW
  • PLTM Telagawa Ayu 1 MW
  • PLTM Tukad Balian 2.5 MW
  • PLTM Telagawaja 4 MW
  • PLTM Sambangan 1.852 MW

Pembangkit EBT Kurang Handal

Sementara itu terkait sumber listrik di Pulau Bali ini, Dewanto, Direktur Manager Energo Alternatif Divisi EBT PLN mengatakan bahwa pasokan listrik dari pembangkit EBT keandalannya kurang konsisten. Artinya tergantung dari situasi alam. Satu contoh, PLTS tidak bisa beroperasi secara maksimal saat hujan. Dampaknya pasokan listrik berkurang karena tegangan menjadi rendah. Akibatnya lampu meredup atau bahkan mati.

READ  Potensi Sumber Energi Listrik Di Bali Melalui Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS)
Pembangkit Listrik Tenaga Surya Bali
Pembangkit Listrik Tenaga Surya Bali

Di Eropa penggunaan barubara sebagai pembangkit listrik utama mulai dikurangi. Namun di Jerman pernah terjadi gangguan hingga mengalami pemadaman total. Jerman sendiri waktu itu menggunakan pembangkit Bio dan PV (Photovoltaic).

Begitu pula dengan EBT, pada prinsipnya konsep EBT adalah mengurangi penggunaan batubara sehingga emisi yang muncul dari proses pembakaran bisa diminimalkan. Di negara-negara maju, pengurangan penggunaan batubara ini mendapat insentif dari pemerintah. Insentif diberikan kepada perusahaan-perusahaan besar yang sudah berusaha mengurangi gas buang maupun limbahnya. Di Indonesia sendiri insentif baru sebatas wacana. Meskipun sudah pernah disampaikan namun belum ada respon positif dari pemerintah.

Kelemahan Pembangkit EBT PV

Sumber listrik di Bali salah satunya juga dipasok dari pembangkit EBT yaitu PV. Namun pembangkit ini punya kelemahan, salah satunya bersifat intermiten. Dia hanya mampu beroperasi 4 hingga 8 jam dalam kondisi panas normal.

READ  Potensi Sumber Energi Listrik Di Bali Melalui Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS)

Apabila dikembangkan untuk kapasitas besar namun dalam kondisi panas yang minim justru sangat berbahaya bagi sistem. Itulah mengapa pembangkit EBT di Bali perlu di back up. Sedangkan untuk back up PV jika mengalami gangguan, yang paling efektif dan efisien yaitu JBC.

EBT sebenarnya adalah solusi sumber listrik di Pulau Bali. Namun begitu biaya investasi EBT sendiri cukup mahal. Belum lagi untuk pengelolaan sampah menjadi energi tentu butuh biaya lebih besar lagi. Kendati demikian nilai investasi tersebut sifatnya anomali. Artinya masuknya teknologi terbaru sangat wajar jika investasinya mahal. Jadi pengembang harus siap mengikuti harga sesuai ketetapan pemerintah. Mekanismenya memang begitu, harga listrik dari swasta yang dijual ke PLN harus mendapat persetujuan dari pemerintah, dalam hal ini Menteri ESDM.

You May Also Like

About the Author: Storm